Hingga akhirnya aku masuk ke dalam sebuah jurusan bernama desain, hingga akhir proses pendidikan, aku dinyatakan sebagai desainer dalam secarik kertas kaku berlaminating dengan tanda tangan rektor diatasnya, bukan hal menarik lagi menurutku dimana secarik kertas yang cukup mahal untuk kutebus dengan lima setengah tahun hidupku.
Apa yang kudapat saat ini, designer (dizainer) atau the sinner (desainer) terdengar sama sepintas, ya aku mempengaruhi orang untuk sekedar melihat, merasakan, mengkritik, memaki, memuji atau sekedar menikmati karyaku, dosa apa itu, masuk ke dalam ranah pikiran orang lain dan menancapkan sesuatu yang nantinya akan men-sublim-inasi ruang imaji orang lain (konsumen maupun agen-agen desain tempat bekerjaku nantinya) untuk sekedar mengingat hasil kerjaku.
Bermain dalam ranah pikiran, kurasa itu memang tugas seorang desainer, sekedar menghibur perasaan orang lain dalam bentuk tampilan produk, ruang atau tampilan visual stasis maupun gerak, sebuah dosa yang baik kurasa, ketika orang lain terhibur oleh hasil kerjaku. Bagaimana sebaliknya jika karyaku adalah sampah memori yang terlanjur menancap dalam pikiran orang lain? Sebuah dosa yang sulit termaafkan, dan konsekuensi jangka panjang yang harus kuterima seumur hidupku
Saat ini aku mengalami dilema, bahwa aku memiliki banyak berhala yang harus kuikuti aturannya, berhala layar kaca yang harus kusembah dalam bentuk logo stasiun tv lokal tempatku bekerja, berhala kode etik seni dimana aku harus menghindari sesuatu yang diberi nama penjiplakan, aku belajar melalui tutorial-tutorial gratis dimana aku harus mengembangkan tutorial dan template itu menjadi sebuah karya yang menjadi namaku. Dosa turunan yang dimana aku mengklaim ilmu pengetahuan gratis yang kuperoleh menjadi hak milikku, apakah ini sebuah dosa?
Klaim sebuah seni, aku merasa berdosa untuk mengadakan sebuah pertunjukan seni dimana aku memajang karyaku, aku membuat sesuatu yang merupakan pengembangan pemikiran orang lain sebelumku, itu hal wajar, dan aku dibayar untuk itu. Aku bersimbah dosa dengan semua omongkosong pembajakan yang kulakukan, tapi ini sebuah profesi desainer, seorang seniman, persetan dengan dosa. Terlalu angkuh untuk di akui tapi aku bangga dengan semua dosaku, sebuah portfolio yang mengiringi kedewasaan karyaku nantinya.








--
drive your intuition for making a good results
[link]
disini warna warni disana juga warna warni
[link]
--
ANGIE UR MY ONE LOVE!!!
--
ANGIE UR MY ONE LOVE!!!
--
disini warna warni disana juga warna warni
[link]
jepret-jepretan yuuk
[link]
Previous PageNext Page